Cara Mengurus Jenazah

Orang yang sakit wajib menerima qadha (ketentuan) Allah, bersabar hadapi dan juga berbaik sangka kepada Allah, seluruh ini baik baginya.
Ia wajib mempunyai perasaan was-was dan juga harapan, yaitu was-was akan siksaan Allah gara-gara ada dosa-dosa yang udah ia lakukan, dan juga harapan akan rahmat Allah.
Bagaimana parahnya penyakitnya, ia tidak boleh mengangan-angan kematian, kalaupun terpaksa, maka hendaknya ia berdoa : -Allahumma ahyanii maa kanati al-hayatu khairan lii wa tawaffaniy idzaa kanati al-wafaatu khairan lii- “Artinya : Ya Allah hidupkanlah akau kalau kehidupan lebih baik bagiku, matiknalah aku kalau kematian lebih baik bagiku”
Jika ia mempunyai kewajiban yang menyangkut hak orang lain, hendaknya selesaikan secepat mungkin. Jika tidak bisa hendaknya berwasiat untuk penyelesaiannya.
Ia wajib bersegera berwasiat

MENJELANG MATI
1. Menjelang mati, maka orang-orang yang ada di sekitarnya wajib melaksanakan hal-hal selanjutnya :
a. Mentalqin (menuntun) mengucapkan -Laa Ilaha Illal-llah- “Artinya : Tiada yang berhak disembah tidak cuman Allah”
b. Mendo’akan
c. Mengucapkan perkataan yang baik.
2. Adapun membacakan surat Yaa sin di segi orang yang meninggal atau menghadapkan ke kiblat maka amalan selanjutnya tidak ada dalilnya.
3. Seorang muslim boleh menghadiri kematian orang non-muslim untuk menganjurkan kepadanya sehingga masuk Islam (sebelum meninggal dunia).

KETIKA MENINGGAL DUNIA
Jika udah meninggal dunia maka orang-orang yang ada disekitarnya wajib melaksanakan hal-hal selanjutnya :
1. Memejamkan mata mayyit
2. Mendo’akan
3. Menutupnya bersama kain yang meliputi seluruh anggota tubuhnya. Tapi kalau yang meninggal sedang melaksanakan ihram, maka kepala dan wajahnya tidak ditutupi
4. Bersegera menyelenggarakan jenazahnya sesudah yakin bahwa ia udah serius meninggal
5. Menguburkan di kampung tempat ia meninggal, tidak memindahkan ke tempat lain kalau didalam kondisi darurat. Karena memindahkan mayat ke tempat lain bermakna menyalahi perintah mempercepat pelaksanaan jenazah.
6. Bersegera selesaikan utang-utangnya seutuhnya berasal dari harta si mayyit sendiri, mekipun hingga habis hartanya, maka negaralah yang menutupi utang-utangnya sesudah ia sendiri udah mengusahakan membayarnya. Jika negara tidak melaksanakan hal itu dan ada yang berbaik budi melunasinya, maka hal itu dibolehkan.

YANG BOLEH DILAKUKAN PARA KERABATNYA DAN ORANG LAIN
1. Boleh mengakses wajah mayyit dan menciumnya, menangisi -tanpa ratapan- didalam kurung tiga hari.
2. Tatkala berita kematian hingga kepada kerabat mayyit, mereka wajib :
a. Bersabar dan juga redha akan ketentuan Allah
b. Beristirjaa’ yaitu membaca : -Inna Lillahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun- “Artinya : Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan kepada-Nya-lah kita akan kembal”
3. Tidaklah menyalahi kesabaran kalau ada wanita yang tidak berhias serupa sekali asal tidak melebihi tiga hari sesudah meninggalnya ayahnya atau tidak cuman ayahnya. Kecuali kalau yang meninggal adalah suaminya, maka ia tidak berhias sepanjang empat bulan sepuluh hari, gara-gara hal ini ada dalilnya.
4. Jika yang meninggal tidak cuman suaminya, maka lebih afdhal kalau tidak meninggalkan perhiasannya untuk meredlakan/menyenangkan suaminya dan juga memuaskannya. Dan diinginkan ada kebaikan di balik itu.

HAL-HAL YANG TERLARANG
Rasulullah udah melarang/mengharamkan hal yang selamanya dikerjakan oleh banyak orang dikala ada yang meninggal, hal-hal yang dilarang selanjutnya wajib diketahui untuk dihindari, di antaranya :
1. Meratap, yaitu menangis berlebih-lebihan, berteriak, memukul wajah, merobek-robek kantong busana dan lain-lain.
2. Mengacak-acak rambut
3. lelaki memperpanjang jenggot sepanjang {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} hari sebagai sepanjang {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} hari sebagai isyarat duka atas kematian seseorang. Jika duka udah berlalu maka mereka ulang mencukur jenggot lagi.
4. Mengumumkan kematian lewat menara-menara atau tempat lain, gara-gara langkah menginformasikan yang layaknya itu terlarang dan syariat.

CARA MENGUMUMKAN KEMATIAN YANG DIBOLEHKAN
1. Boleh menyampaikan berita kematian tanpa menempuh cara-cara yang diamalkan terhadap zaman jahiliyah dahulu. Bahkan kadang kala menyampaikan berita kematian hukumnya menjadi wajib kalau tidak ada yang memandikannya, mengkafani, menshalati dan lain-lain.
2. Bagi yang menyampaikan berita kematian dibolehkan meminta kepada orang lain sehingga mendo’akan mayyit, gara-gara hal ini ada landasannya di didalam sunnah

TANDA-TANDA HUSNUL KHATIMAH
Telah sah pejelasan berasal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau menyatakan {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} isyarat husnul khatimah (kematian/akhir hidu yang baik). Jika seseorang meinggal dunia bersama mengalami salah satu di antara gejala itu maka itu merupakan kabar gembira.
1. Mengucapkan syahadat di sementara meninggal
2. Mati bersama berkeringat terhadap dahi
3. Mati terhadap hari Jum’at atau terhadap malam Jum’at
4. Mati Syahid di medan jihad
5. Mati terkena penyait thaa’uun
6. Mati terkena penyakit perut
7. Mati tenggelam
8. Mati terkena reruntuhan
9. Mati seorang wanita hamil karenan janinnya
10. Mati terkena penyakit paru
11. Mati membela agama atau diri
12. Mati membela/mempertahankan harta yang akan dirampok
13. Mati didalam keterikatan bersama jalan Allah
14. Mati didalam suatu amalan shalih
15. Mati terbakar

PUJIAN ORANG TERHADAP MAYIT
1. Pujian baik terjadap mayyit berasal dari sekelompok orang-orang muslim yang benar-benar, paling tidak cukup dua orang di antara tetangga-tetangganya yang arif, shalih dan berilmu bisa menjadi penyebab masuknya mayit ke didalam surga.
2. Jika kematian seseorang bertetapan bersama gerhana matahari atau bulan, maka hal itu tidak perlihatkan sesuatu. Sedangkan kesimpulan bahwa hal itu merupakan gejala kemualian si mayit adalah khurafat jahiliyah yang bathil